Hak-Hak Persaudaraan Sesama Ahlussunnah

Alhamdulillah, berikut kami sampaikan rekaman kajian untuk pengunjung setia blog moslemsunnah, kajian ilmiyyah dari rangkaian Safari Dakwah Majalah Al-Furqon oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawy dengan mengambil tema ” Hak-Hak Persaudaraan Sesama Ahlussunnah “ yang di selenggarakan di Masjid Jami’ Baitul Huda Cilincing Jakarta Utara. pada hari Jum’at 28 Mei 2010 ba’da maghrib-selesai.

Sumber : moslemsunnah.wordpress.com

Hak-Hak Persaudaraan Sesama Ahlussunnah 01

Hak-Hak Persaudaraan Sesama Ahlussunnah 02

Hak-Hak Persaudaraan Sesama Ahlussunnah 03

Istiqomah diatas Sunnah

Istiqomah diatas Sunnah 01

Istiqomah diatas Sunnah 02

Meluruskan Sejarah Wahabi

Kata “wahhabi” sudah tidak terasa asing ditelinga kita, ketika orang yang awam mendengar kata ini dan ketika membayangkan kelompok yang disebut dengan sebutan ini maka yang terbetik di mereka adalah aliran Islam yang sesat yang suka mengkafirkan atau menyesatkan kaum muslimin lainnya dan segudang celaan-celaan lain. Semuanya disebabkan oleh adanya sumber-sumber atau rujukan yang tidak jelas kebenarannya dan hanya kedustaan belaka yang tersebar dikalangan orang awam mengenai “Wahhabi”, atau juga karena ketaqlidan (hanya ikut-ikutan) sebagian orang awam terhadap tulisan-tulisan tersebut. Oleh karena itu dalam pembahasan ceramah bedah buku ini akan meluruskan dan membantah beberapa tuduhan yang dilontarkan kepada dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini yang disampaikan langsung oleh penulis, Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawy. Bagi yang ingin mendapatkan penjelasan detail silahkan merujuk langsung ke buku langsung.

Faidah-faidah yang dapat dipetik dari pembahasan,

1. Bantahan terhadap salah satu artikel yang mencela syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan ajaran yang dibawanya dengan judul “Membongkar Kedok Wahabi, Satu Dari Dua Tanduk Setan” yang dimuat dalam majalah Cahaya Nabawi hal 8-17 edisi 33 th. III Sya’ban 1426 H

2. Merupakan Sunnatulloh bahwa akan banyak celaan, fitnah, dan tuduhan yang miring yang dilontarkan kepada ulama-ulama yang menyebarkan dakwah tauhid, pemberantas syirik, bid’ah dan mengingatkan ummat atasnya. Hal ini sebagaimana yang menimpa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yang dalam menyebarkan dakwahnya beliau dicela, difitnah, bahkan disakiti oleh orang-orang yang tidak menyukai dakwah tauhid beliau. Maka barangsiapa yang mengaku mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, pasti akan mengalami hal yang sama yaitu dalam celaan, fitnah dan tuduhan yang jauh dari kebenaran untuk menjauhkan ummat kepada dakwah tauhid yang dibawanya.

3. Keroposnya sumber, rujukan atau referensi penulis artikel tersebut, mengingat betapa pentingnya suatu penukilan dan periwayatan terhadap suatu kabar. Imam Muslim rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa merupakan kewajiban atas setiap orang yang bisa membedakan antara riwayat yang shahih dan lemah, dan antara penukil yang terpercaya dan pembohong, hendaknya dia tidak meriwayatkan kecuali kabar yang dia ketahui keabsahannya dan penukil yang terpercaya, dan menjauhi dari kabar orang-orang yang tertuduh dan penyeleweng dari kalangan ahli bid’ah. Adapun dalil yang menguatkan hal ini adalah firman Allah….(QS. Al-Hujurat :6) (Shahih Muslim 1/20-22 Syarah Nawawi)

4. Sumber artikel tersebut berputar pada dua orang, yang pertama Mr.Hemper dan Syaikh Ahmad Zaini. Mr. Hemper, yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di timur tengah, sebagaimana pengakuan penulis (artikel tersebut) sendiri (hal.9). Jadi Hempher adalah seorang orientalis kafir yang dengki terhadap Islam dan berusaha sekuat tenaga untuk membuat kerusakan. Oleh karena itu para ulama bersepakat bahwa riwayat orang kafir adalah mentah, tidak diterima. Sedangkan tentang Syaikh Ahmad Zaini, syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan, “Sesungguhnya Dahlan bukanlah seorang yang ahli di bidang hadits, sejarah, dan ilmu kalam. Dia hanyalah taklid kepada orang-orang yang juga taklid dan hanya menukil dari kitab-kitab mutaakhirrin (orang-orang belakangan) ” (Meluruskan Sejarah Wahhabi hal.23). Dengan demikian jika dilihat dari sumber rujukan, maka artikel tersebut berada pada pondasi yang keropos.

5. Kitab-kitab yang dijadikan sumber rujukan artikel tersebut dengan kedua tokoh di atas sarat dengan kedustaan dan pemutarbalikkan fakta.

6. Wahhabi bukanlah sebuah gelar yang dicetuskan oleh pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sendiri, namun dari musuh-musuh dakwah, baik karena politik saat itu atau para pecinta kesyirikan dari kalangan kaum sufi dan rafidhoh dengan tujuan melarikan manusia dari dakwah yang beliau emban dan menggambarkan bahwa beliau membawa ajaran baru atau madzhab kelima yang menyelisihi empat madzhab. (Meluruskan Sejarah Wahhabi hal. 76)

7. Kesalahan penamaan gelar “Wahhabi” itu sendiri jika memang nama tersebut dinisbahkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Karena nama beliau bukanlah Abdul Wahhab (ayahnya), dan jika mau diluruskan, maka penamaan yang benar adalah “Muhammadiyah” karena nama beliau adalah Muhammad. Jika mau jujur, bahwa “Wahhabi” adalah golongan dan penamaan yang mulia karena justru penisbatan kepada al Wahhab (Maha Pemberi) yang merupakan salah satu nama Allah.

8. Kelompok yang dituduh dengan sebutan “Wahhabi” bukanlah merupakan madzhab yang baru apalagi merupakan agama tersendiri diluar Islam. Raja Abdul Aziz mengatakan, “Mereka menjuluki kami “Wahhabiyun” dan madzhab kami adalah “Wahhabi” sebagai madzhab tertentu, maka ini adalah kesalahan fatal akibat kabar bohong yang didesuskan oleh sebagian kalangan yang memiliki niat jahat. Kami bukanlah pemeluk madzhab baru atau aqidah baru. Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah membawa ajaran baru. Aqidah kami adalah aqidah salaf shalih yang diajarkan dalam al-Quran dan as-Sunnah sebagaimana pemahaman salafus shalih. Kami menghormati imam empat, tidak adanya bagi kami Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah, semuanya sangat terhormat dalam pandnagan kami.” (Meluruskan Sejarah Wahhabi hal.78).

9. Pada kenyataannya, dapat kita saksikan sendiri bahwa setiap orang yang memperingatkan ummat atas kesyirikan dan cabang-cabangnya, mengingkari kebid’ahan dan memperingatkan ummat atasnya, maka dia akan disebut “Wahhabi”. Sehingga ini justru menjadi simbol bagi setiap golongan yang mengikuti al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman shalafus shalih. Maka tidak heran ada perkataan ulama, “Jika pengikut Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah Wahhabi, maka akui bahwa diriku Wahhabi.” (Meluruskan Sejarah Wahhabi hal. 82)

10. Salah satu contohnya adalah gelar yang diberikan pula kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) sebagai “Wahhabi”, padahal beliau tidak mengenal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan hidup pada masa sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (wafat 1206 H). Kenapa tidak sekalian saja bahwa syaikh Muhhammad bin Abdul Wahhab itu disebut “Taimiyyi” ? yang bisa saja beliau disebut demikian karena beliau hidup pada masa setelah Syaikh Ibnu Taimiyyah dengan ajaran yang dibawa sama, yakni dakwah tauhid, pemurnian Islam dari Syirik, Bid’ah, dan Khurofat.

11. Bantahan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merendahkan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, tidak mencintai Nabi, tidak bersholawat kepada Nabi, bahkan tuduhan bahwa beliau mengaku menjadi Nabi.

12. Bantahan bahwa syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab suka mengkafirkan kaum muslimin.

13. Bantahan bahwa syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah finah Nejed seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam.

sumber: http//maramissetiawan.wordpress.com/

Meluruskan Sejarah Wahabi


Menangkal Fitnah Syubhat dan Syahwat

Tema: Menjaga Diri dari Fitnah Syubhat dan Syahwat
Hari : Kamis, 21 Mei 2009
Waktu : Pkl. 08.00-11.30 WIB
Tempat : di Masjid Pogung Raya, Yogyakarta

Pemateri: Al Ustadz Abu Ubaidah al-Atsari -hafizhahullah-

Banyak hal di dalam kehidupan manusia yang perlu dihadapi. Sebagaimana kehidupan ini akan terus berjalan hingga manusia menemui kematiannya, akan tetapi perjalanan manusia penuh dengan cobaan dan ujian, diantaranya Fitnah akan Syubhat [mengenai penyimpangan pemikiran] dan Syahwat [mengenai hawa nafsunya].

Pada kajian ini Alhamdulillah Ustadz Abu Ubaidah menjelaskan kiat-kiat untuk menangkal kedua fitnah tersebut yaitu dengan Ilmu dan Sabar, serta kiat lainnya, terdapat pula tanya jawab ringkas. Silahkan lebih lengkapnya Shahabat Muslim dapat mendownload tautan di bawah ini, Semoga bermanfaat Baarakallahu fiikum.

Sumber : RadioMuslim.com

Menangkal Fitnah Syubhat dan Syahwat

Pengeboman, Jihad atau Terori

Alhamdulillah, silakan download rekaman kajian dan bedah buku “PENGEBOMAN: JIHAD ATAU TERORISME?” yang disampaikan oleh al Ustadz al Faadhil Abu Ubaidah Yusuf. Kajian ini diselenggarakan oleh Yayasan Dakwah Islam Nidaaus Sunnah Lasem-Rembang pada bulan Maret 2010. Semoga kajian ini bermanfaat bagi kita.

Sumber : salafiyunpad.wordpress.com

Pengeboman, Jihad atau Terorisme 01

Pengeboman, Jihad atau Terorisme 02

Perkara-Perkara Jahiliyah

Pengetahuan kita tentang perkara-perkara jahiliyah sangatlah penting, bukan untuk kita melakukannya tetapi untuk kita jauhi. Sebagaimana perkataan Hudzaifah Ibnul Yaman, “Adalah manusia bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, adapun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena saya khawatir terjerumus kedalamnya”. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Orang yang tidak mengetahui kejelekan, maka dia akan terjerumus kedalam kejelekan tersebut tanpa dia sadari. Lalu apakah yang dimaksud dengan Jahiliyyah ? Jahiliyyah adalah nisbat kepada sifat jahil (bodoh) dan masa jahiliyyah adalah masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu sebelum masa Islam. Dan setelah diutus Nabi shallallahu’alaihi wa sallam maka tidak ada masa jahiliyyah secara mutlak, oleh karena itu terlarang bagi kita jika menggelari suatu zaman dengan zaman jahiliyyah, tetapi memang perangai-perangai atau sifat-sifat jahiliyyah tersebut masih ada pada seseorang atau suatu kaum. Dan sudah seharusnya kita menjauhi perangai-perangai jahiliyyah ini. Berikut ini diantaranya:

1. Berdo’a kepada Wali dan orang-orang shalih.
2. Berbangga dengan kelompoknya masing-masing/ Hizbiyyah.
3. Mengaggap bahwa ketaatan kepada pemimpin/ pemerintah adalah suatu kehinaan.
4. Taqlid buta kepada tokoh atau ulamanya.
5. Menimbang kebenaran suatu perkara dengan banyaknya orang yang mengikuti.

Dan lain-lain…Silahkan untuk lebih lengkapnya menyimak ceramah berikut yang disampaikan oleh Ust. Abu Ubaidah (sebagai pengganti Ust. Abu Qotadah sebagaimana rencana awal) dengan Tema “Masail (Perkara-Perkara) Jahiliyyah” yang direkam dari Dauroh Islamiah di Tuban pada tanggal 28 Februari 2010.

Sumber : maramissetiawan.wordpress.com via pustaka-albinjy.blogspot.com

Perkara-Perkara Jahiliyah 01

Perkara-Perkara Jahiliyah 02

Polemik Perayaan Maulid Nabi

Rekaman kajian Umum bersama Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi di Ma’had Al Ukhuwah, Sukoharjo, pada hari Ahad, 14 Februari 2010. Kajian ini mengambil tema POLEMIK PERAYAAN MAULID NABI dengan mengambil rujukan dari buku yang beliau tulis sendiri. Semoga kajian ini bermanfaat bagi seluruh kaum Muslimin, khususnya bagi yang ingin merayakan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, wajib mendengarkan ceramah ini ^ ^.

Sumber : salafiyunpad.wordpress.com

Polemik Perayaan Maulid Nabi 01

Polemik Perayaan Maulid Nabi 02

Prinsip-prinsip Beragama Imam Syafi’i

Alhamdulillah, silakan download rekaman kajian yang disampaikan oleh al Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi hafizhahullah dalam Kajian Islami Ahlussunah Waljama’ah (bulan Ke-1) dengan tema “PRINSIP-PRINSIP BERAGAMA IMAM SYAFI’I”.

Kajian ini bertempat di Masjid Agung Baitul Hakim Madiun Jl. Aloon-aloon barat no.13 Madiun (Ahad, 09 Mei 2010) dan diselenggarakan oleh Yayasan An Najiyah Madiun.

Jazahumulah khaira kepada an-najiyah madiun yang telah berbagi rekamannya.

Sumber : SALAFIYUNPAD

Prinsip-prinsip Beragama Imam Syafi’i 01

Prinsip-prinsip Beragama Imam Syafi’i 02

Sumber : Kajian.net