Bahaya Berlebihan Dalam Beragama

Bahaya Berlebihan Dalam Beragama

Fatwa MUI Tentang Mengikuti Perayaan Natal Bersama

Judul Kajian : Fatwa MUI tentang mengikuti perayaan Natal bersama

Waktu dan tempat : Radio Taruna Al Qur’an tahun 2004

Pemateri : Ustadz Aris Munandar, Ss. (Pengajar Al Madinah International University dan Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta).

Syariat Islam memperbolehkan umatnya bergaul dan bermuamalah dengan non-muslim dalam batas-batas yang masih dibolehkan dalam syariat. Namun hal ini tidak menjadi pembenaran bagi sebagian umat Islam yang ikut serta dalam acara-acara perayaan non-muslim, yang merupakan bentuk peribadatan mereka. Seorang muslim tidak sepatutnya mencampuradukan aqidahnya dengan aqidah non-muslim.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” [Al Kaafirun: 1-6] Simak pembahasan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) berikut tentang larangan mengikuti perayaan Natal bersama bagi ummat muslim.

[Kajian ini adalah rekaman siaran Radio Taruna Al Qur’an Yogyakarta. Radio Taruna Al Qur’an sendiri saat ini sudah tidak mengudara lagi]

Sumber : RadioMuslim.com

Fatwa MUI Tentang Mengikuti Perayaan Natal Bersama

Hukum Gambar

Hukum Gambar

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Judul Kajian : “Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi”

Tema : Penjelasan tentang larangan ikut merayakan tahun baru Masehi, sebab dan akibat yang ditimbulkannya

Pemateri : Ustadz Aris Munandar, Ss.
(Pengajar Al Madinah International University dan Pengajar Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
Waktu dan Tempat : Radio Taruna Al Qur’an, 2003

Pada rekaman kajian yang lalu di Radio Muslim telah dibahas bahwa umat Islam mulia dengan penanggalan Hijriyah dan penanggalan Masehi dan perayaannya adalah bagian dari kebudayaan non-muslim, sehingga seorang muslim yang benar imannya tidak akan mengikuti perayaan-perayaan tersebut bahkan melewatinya dengan penuh kemuliaan sebagai seorang muslim.

Namun ketahuilah bahwa selain merupakan kebudayaan non-muslim, terlarangnya mengikuti perayaan tahun baru masehi juga disebabkan oleh beberapa pelanggaran syariat di dalamnya. Diantaranya yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang bergadang tanpa ada keperluan yang penting dan bermanfaat. Apalagi jika bergadang tersebut samapi membuat lalai dari shalat shubuh berjama’ah. Allah dan Rasul-Nya juga melarang perbuatan tabdzir, yaitu membuang-buang harta pada hal yang tidak bermanfaat seperti perayaan tahun baru yang biasanya diadakan acara meriah yang menghabiskan uang yang tidak sedikit. Dan pelanggaran yang lainnya.

Lebih lengkapnya simak pembahasannya pada kajian berikut ini…

Sumber : RadioMuslim.com

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah

Kajian kitab Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Kajian ini merupakan hadiah dari Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta, http://www.musilm.or.id

Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah 1

Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah 2

Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah 3

Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah 4

Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah 5


Majalis Syahri Ramadhan

Majalis Syahri Ramadhan oleh Ustadz Aris Munandar. Merupakan serial kajian yang mengupas kitab “Majalis Syahri Ramadhan” oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

Sumber: Ngaji-Online.com.

Majalis Syahri Ramadhan 01

Majalis Syahri Ramadhan 02

Majalis Syahri Ramadhan 03

Majalis Syahri Ramadhan 04

Majalis Syahri Ramadhan 05

Majalis Syahri Ramadhan 06

Majalis Syahri Ramadhan 07

Majalis Syahri Ramadhan 08

Majalis Syahri Ramadhan 09

Majalis Syahri Ramadhan 10

Sejarah Penanggalan Hijriah

Judul Kajian : “Kaum Muslimin Mulia dengan Penanggalan Hijriah”

Tema : Penjelasan tentang sejarah penanggalan Hijriyah dan larangan ikut merayakan tahun baru Masehi

Waktu dan Tempat : Radio Taruna Al Qur’an, 2003

Pemateri : Ustadz Aris Munandar, Ss.
(Pengajar Al Madinah International University dan Pengajar Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Menjelang tahun baru masehi 2009, banyak ummat Islam yang latah ikut merayakan perayaan tersebut. Padahal tahun Masehi adalah penanggalan yang berasal dari non-muslim dan perayaannya adalah merupakan hari besar non-muslim. Patutkan ummat Islam mengambil bagian dalam perayaan tersebut?

Ummat Islam memiliki penanggalan Hijriyah yang sepatutnya ummat Muslim merasa mulia dengannya dan tidak perlu terpikat dengan kebudayaan non-muslim termasuk penanggalan mereka. Bahkan hal tersebut dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya serta para sahabat dan ulama Islam dari dahulu hingga sekarang.

Simak kajian yang menjelaskan sejarah penetapan penanggalan Hijriyah berikut, yang nantinya akan diketahui bagaimana sikap terhadap hari raya atau perayaan kaum non-muslim.

[Kajian ini adalah rekaman siaran Radio Taruna Al Qur’an Yogyakarta. Radio Taruna Al Qur’an sendiri saat ini sudah tidak mengudara lagi]

Sumber : RadioMuslim.com

Sejarah Penanggalan Hijriah

Tanya Jawab

193_Bolehkah mengumumankan kematian dan kajian di masjid

194_Bolehkah menunda shalat dhuhur karena kuliah

211_Batalkah sholat memakai parfum beralkohol dan cara menasehati orang yg taklid

214_Bolehkah membaca al Quran tidak berwudhu terlebih dahulu

216_Mengapa dlm al Quran terjemahan Allah sering menyebut diriNya dgn Kami

219_Shohihkah hadits ttg mengusap wajah setelah doa

238_Apakah imsak ada tuntunannya dalam syariat Islam

240_Apakah sahur dihentikan ketika terdengar adzan

243_Apakah batas2 hubungan ikhwan dan akhwat yg bukan mahram

245_Apakah doa setelah shalat fardlu perlu mengangkat tangan

246_Apakah hukum suami memegang kelamin istri dan sebaliknya

247_Apakah orang yg telah berusaha mencari istri dan tidak berhasil menyelisihi sunnah

252_Bagaimana jika mendapatkan hadits namun tidak jelas perawinya

254_Bagaimana membayar shalat karena ditinggalkan dengan sengaja

259_Wajibkah shalat berjamaah dan cara berjamaah jika hanya dua orang

303_Pertanyaan tentang iktikaf

Tuntunan Sifat Sholat Nabi

Pembahasan Kitab Talkhish Sifat Sholat Nabi, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, pemateri Ustadz Aris Munandar, S.s.

Kajian ini merupakan hadiah dari LBI Islam Al-Atsary Yogyakarta (muslim.or.id) untuk kajian.net.

Talkhis Sifat Shalat 1

Talkhis Sifat Shalat 2

Talkhis Sifat Shalat 3

Talkhis Sifat Shalat 4

Tuntunan Sifat Wudhu Nabi

Pembahasan Kitab Sifat Wudhu Nabi, karya Fahd Abdurrahman Asy Syuwaib, pemateri Ustadz Aris Munandar, S.s.

Kajian ini merupakan hadiah dari LBI Islam Al-Atsary Yogyakarta (muslim.or.id) untuk kajian.net.

Sifat Wudhu Nabi 1

Sifat Wudhu Nabi 2

Sifat Wudhu Nabi 3

Sifat Wudhu Nabi 4

Sifat Wudhu Nabi 5

Sumber : Kajian.net

Kajian kitab Khudz ‘Aqidataka Minal Kitab wa Sunnah Ash Shahihah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Kajian ini merupakan hadiah dari Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta, http://www.musilm.or.idShare